TEORI MASUK DAN BERKEMBANGNYA BUDAYA HINDU-BUDHA DI INDONESIA
A.
TEORI MASUK DAN BERKEMBANGNYA BUDAYA HINDU BUDHA DI INDONESIA
Ada 5 teori yang cukup terkenal dalam menjelaskan masuknya
agama Hindu dan Buddha ke Indonesia.
1. TEORI KSATRIA
Menurut teori ksatria agama
Hindu dibawa ke Indonesia oleh kaum militer atau prajurit dan bangsawan yang
saat itu memegang kekuasaan di wilayah India. Ksatria merupakan kasta kedua dalam ajaran
agama Hindu, kedudukannya dibawah Brahmana.
Menurut catatan
sejarah, pada abad ke dua masehi terjadi pergolakan di kerajaan-kerajaan di
India sehingga menyebabkan keruntuhan, disebabkan karena perebutan kekuasaan.
Penguasa yang kalah, terutama dari golongan ksatria kemudian melarikan diri
pergi menuju ke daerah lain salah satunya Nusantara.
Saat tiba di
Nusantara, mereka kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan dengan corak
Hindu-Budha. Dari sini, mereka menyebarkan ajaran agama tersebut kepada
masyarakat yang notabene masih menganut animisme dan dinamisme. Selain agama,
kebudayaan juga berkembang dan bercampur dengan budaya yang saat itu ada.
v
Tokoh
Pendukung Teori Ksatria
Tokoh
pencetus teori Ksatria bernama Cornelis Christian Berg disingkat C.C. Berg
Penulis keturunan Belanda kelahiran Bandung tanggal 7 Februari 1934), Mookerji
dan Prof. Dr. Ir. J.L Moens. Mereka lah tokoh-tokoh yang berpendapat bahwa
golongan prajurit membawa agama hindu Budha ke Nusantara.
v
Kelebihan
dan Kelemahan Teori Ksatria
Kelebihan
teori ksatria
yakni semangat berpetualang untuk menaklukkan daerah lain hanya di miliki oleh
para ksatria.
Kekurangan teori ini adalah tidak ada bukti secara tertulis
mengenai kedatangan ksatria dari India tersebut.
2. TEORI WAISYA
Teori ini menyatakan kalau agama Hindu Buddha dibawa oleh
pada pedagang India ke Indonesia. Agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh
para pedagang India. Teori ini dikemukakan oleh N.J. Krom, yang berpendapat
bahwa agama Hindu-Buddha masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari India.
Agama Hindu dan Buddha disebarkan dengan cara pernikahan, hubungan dagang, atau
interaksi dengan penduduk setempat saat pedagang dari India dan bermukim di
Nusantara yang secara spesifik merujuk kepada Indonesia atau kepulauan
Indonesia di masa sekarang.
Perdagangan zaman
dahulu tidak semudah seperti sekarang ini, para pedagang yang datang dari India
tidak bisa langsung datang terus pulang pergi begitu saja, namun harus menunggu
arah angin yang pas (tepat). Karena kapal-kapal yang mereka gunakan masih
mengandalkan arah angin. Maka dapat kita analisis bahwa kedatangan mereka tidak
berlangsung secara singkat, namun berbulan-bulan.
v
Tokoh
Pendukung Teori Waisya
Tekoh
pencetus teori Waisya bernama Prof. Dr. N.J. Krom (Nicholas Johannes Krom),
pria kelahiran Belanda tanggal 8 Maret 1945. Ia merupakan tokoh penulis dan
peneliti sejarah awal dan budaya tradisional Indonesia.
v
Kelebihan
dan Kelemahan Teori Waisya
Kelebihan : berdasarkan fakta sejarah, kelompok
dagang (waisya) banyak yang melakukan interaksi dengan masyarakat pribumi untuk
melakukan transaksi jual beli, mereka memanfaatkan situasi ini untuk
menyebarkan agama Hindu dan Budha di Indonesia.
Kekurangan atau kelemahan teori waisya yaitu para
pedagang yang datang tidak menguasai huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta, karena
kemampuan ini hanya dimiliki oleh kaum brahmana.
3. TEORI BRAHMANA
Teori brahmana pertama kali dikemukakan oleh Jc.Van Leur.
Teori ini menyatakan bahwa agama Hindu Buddha dibawa oleh kaum brahmana ( yakni ahli kitab suci, ahli ulama,
ahli sastra, ahli hukum, dan ahli filsafat) dengan dua cara, yaitu kaum
brahmana dari India diundang raja-raja Indonesia dan kaum brahmana datang dari
India bersama para pedagang ke Nusantara.
Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa peninggalan
kerajaan yang bercorak Hindu Budha, seperti prasasti ( piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras
dan tahan lama) yang menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf Palawa. Bahasa
tersebut hanya dikuasai oleh golongan brahmana selaku penutur Sanskerta dan
mengetahui huruf Palawa.
v
Tokoh
Pendukung Teori Brahmana
Pencetus
teori ini bernama J.C. Van Leur. Ia merupakan seorang penulis asal Eropa pada
zaman Hindia Belanda (Kolonial). Saat tinggal di Indonesia. Ia menulis sejarah
Indonesia dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Pemikirannya dipengaruhi
oleh Max Weber dan sosiolog Jerman.
v
Kelebihan
dan Kelemahan Teori Brahmana
Kelebihan teori Brahmana yaitu kaum Brahmana merupakan golongan yang
paling tahu dan mengerti tentang ajaran agama Hindu, sehingga mereka yang
berhak dan mampu menyebarkannya.
Kelemahan teori Brahmana yakni menurut aturan atau ajaran Hindu Kuno
di India menegaskan bahwa seorang Brahmana dilarang untuk menyeberangi lautan,
apabila dilanggar maka kehilangan status kastanya.
4. TEORI ARUS BALIK
Teori arus balik
menyatakan bahwa masuknya pengaruh agama dan kebudayaan Hindu Budha dilakukan
oleh orang Indonesia sendiri. Awalnya, hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan
ajaran agama tersebut (menempuh ilmu agama di India). Namun pada perkembangan
selanjutnya merekalah yang berperan aktif menyebarkan agama Hindu dan Budha
setelah kembali dari India.
v Tokoh
Pencetus :
oleh Georges Coedes, menyatakan bangsa Indonesia
sendiri ikut membawa ajaran agama Hindu dari India
v
Kelebihan
dan Kelemahan Teori Arus Balik
Kelebihan
teori arus balik yaitu
adanya bukti berupa prasasti Nalanda yang isinya menjelaskan tentang
pembangunan wihara untuk pelajar dari Kerajaan Sriwijaya di India saat menuntut
ilmu. Dari peninggalan tersebut dapat membuktikan bahwa saat itu memang benar
ada pelajar dari Nusantara yang menuntut agama Hindu Budha, dan setelah
kembali, merekalah yang menyebarkan kedua agama tersebut kepada penduduk
nusantara.
Kelemahan
teori arus balik yaitu
orang Indonesia (nusantara) pada saat itu masih bersifat pasif, sehingga
kemungkinan untuk belajar agama Hindu-Budha ke India kurang akurat
kebenarannya.
5. TEORI SUDRA
TEORI SUDRA DIKEMUKAKAN OLEH GODFRIED HORIOWALD VON FABER / VAN FABER (Pria
Jerman-Belanda yang lahir di kota Surabaya pada tanggal 1
Desember tahun 1899, salah satu tokoh pecinta budaya, sehingga pada tahun 1933
ia mendirikan perkumpulan sejarah kota. Beberapa tahun kemudian, ia menjadi
direktur Museum Oost Java yang di bangun oleh pemerintah
provinsi Jawa Timur)
Teori ini menjelaskan bahwa penyebaran agama dan kebudayaan
Hindu Buddha di Indonesia diawali oleh para kaum sudra atau budak yang
bermigrasi ke wilayah Nusantara.
Alasan
mengapa para golongan dari Sudra menyebarkan ajaran agama Hindu ke Indonesia, yaitu
karena mereka ingin mengubah nasib, berupa dapat hidup lebih baik, dan layak.
Oleh karena itulah, para golongan sudra memilih untuk meninggalkan negara
India, dan pergi ke negara lainnya.
Golongan
sudra menetap, dan terjadi sebuah proses asimilasi serta akulturasi dengan
penduduk sekitar. Seiring berjalannya waktu masyarakat yang awalnya memeluk
Dinamisme, dan Animisme kemudian berganti memeluk agama Hindu maupun Budha.
v Kelebihan dan Kelemahan Teori Sudra
Kelemahan Teori Sudra
Teori sudra memiliki banyak sekali kelemahan, sehingga argumentasi ini
menuai banyak bantahan. Beberapa kelemahan teori sudra antara lain :
1.
Tujuan mereka meninggalkan India bukanlah untuk
menyebarkan agama, melainkan untuk memperoleh kehidupan dan kedudukan yang
lebih layak.
2.
Golongan sudra tidak mengetahui seluk beluk ajaran agama
Hindu apalagi menguasai bahasa Sanskerta yang digunakan di dalam kitab suci
agama Hindu yakni Weda.
3.
Kelemahan ketiga yaitu dalam sistem kasta agama Hindu,
kaum sudra adalah yang paling rendah, sehingga tidak mungkin mereka menyebarkan
agama Hindu yang hanya dikuasai oleh golongan Brahmana.
Kelebihan Teori Sudra
Kelebihan teori sudra dilihat dari sudut pandang mengenai kepergian
mereka dari India untuk memperoleh kehidupan yang layak. Hal ini karena kasta
sudra merupakan golongan tersisih, sehingga kepergian merupakan hal yang
nyata.
Komentar
Posting Komentar